Waw ♥ ♥ Subhanallah, Peta Dunia kalau di balik akan berbentuk Lafaz Allah & nama Baginda Rasul, Muhammad s.a.w ♥ ♥
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang yang yakin. QS An’aam:75
source: dari lapak sebelah
Ada fakta unik seputar SMA Negeri 1 Yogyakarta. Mau tau apa? Ini dia…
1. Gerbang 24 Jam
Walaupun namanya sekolah Teladan, tapi murid-muridnya tidak luput dari kebiasaan membolos. Hebatnya sekolah ini tidak begitu ketat soal bolos-bolosan. Setiap hari setidaknya ada 10 sampai 20 orang membolos (jangan tanya saya dari mana data ini didapat). Intinya pasti ada yang bolos. Nah, baiknya lagi di sini pintu gerbang yang bisa diakses cuma satu dan itu pun selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin memasukinya, termasuk yang kabur dari pelajaran. Gak usah heran, anak SMA 1 kalo bolos gakaneh-aneh. Biasanya belajar atau kegiatan organisasi. Yah, tapi tetep aja namanya bolos.
2. Enggak Punya Geng Sekolah
Kalau SMA lain terkenal dengan nama geng-nya, di sini malah kita gak punya geng. Cupu abis. Tapi kita punya nama lain, yaitu Teladan. So proud waktu ditanya: “Sekolah mana?” “Teladan.” Beeeeeeh… sombong!
3. Gedung Kembar
Gak banyak yang tahu kalau SMA 1 ini sebenarnya satu rangkaian sama gedung sebelahnya yang sekarang terkenal dengan nama Jogja National Museum (JNM). Kalau kita lihat sekilas memang kelihatan mirip, tapi sebenarnya gak cuma mirip. Kedua gedung ini adalah gedung kembar. Saya pernah sekali masuk dan takjub sama dalamnya yang persis abis sama sekolah kami. Cuma bedanya ini radaserem. Tadinya gedung ini mau dibeli sama pihak sekolah, tapi gak dapat izin. Padahal katanya kalo jadi dibeli, tanah itu mau dijadiin gelanggang olah raga yang ada kolam renangnya. Sial, pasti keren banget. “SMA 1? Mana itu?” “Itu lho, yang ada kolam renangnya.”
Gedung SMAN 1
Gedung Jogja National Museum
4. Shaf Shalat yang Rapat
Waktu pertama kali masuk sekolah ini, saya sudah terkaget-kaget sama penampilan kakak-kakak kelas yang seragamnya muslimah abis. Jilbab panjang se-ikat pinggang. Bener-bener akhwat. Begitu shalat berjamaah, saya pun terkejut karena tiba-tiba seorang kakak kelas menginjak kaki saya. Tapi gak jadi nginjek, cuma ngerapetin. Jujur baru kali ini shalat berjamaah shaf-nya rapet banget. Rasanya nyaman. Tapi sayangnya kayaknya sekarang udah gak begitu rapet, mungkin karena pengaruh globalisasi dan perputaran waktu. Tapi ya… saya suka banget shalat seperti itu!
5. Hijab
Semua pasti tahu kalau SMA 1 itu termasuk sekolah yang religius. Sampai-sampai ada yang bilang SMA Muhammadiyah Negeri 1. Tapi sejauh ini saya suka-suka aja. Apalagi hijabnya. Jujur awalnya agak aneh, kenapa tiap ada acara gede harus pake hijab (Fyi, hijab itu artinya pembatas. Tapi untuk konteks ini hijab artinya pembatas yang digunakan untuk memisahkan kelompok laki-laki dan perempuan dalam sebuah acara). Tapi sekarang saya seneng banget karena hijab ini membuat kita jadi lebih nyaman ngapa-ngapain: selonjoran, tiduran, salto, kayang, dll.
6. Pom-Pom Boys (Teladan Yelling Team)
Satu lagi yang gak ada di SMA 1, yaitu cheerleader. Oke, ini cupu abis. Tapi kitagak kalah kalo soal sorak-sorakan pas ada event atau pertandingan basket. Namanya Teladan Yelling Team atau biasa disingkat TYT. TYT ini terdiri dari cowok-cowok tidak punya malu yang rela dirinya didandani jadi cewek guna menyoraki tim basket sekolah kita. Proud of you guys. Kita gak kalah oke kok sama sekolah-sekolah lain.
7. Seragam Cuma Satu
Pola rumit seragam SMA 1 Teladan
Gak banyak yang tahu kalau SMA 1 adalah kiblat adanya seragam putih abu-abu bagi seluruh SMA di Indonesia. Ya, awalnya seragam tersebut dipelopori oleh SMA Negeri 1 Yogyakarta. Makanya setiap hari kami jadi make seragam yang sama. Dan pola jahitannya pun rumit banget. Yang mau tahu sejarahnya kenapa SMA 1 bisa jadi pelopor seragam putih abu-abu bisa cek di sini. Untuk pola rumit seragam SMA 1 bisa dicek di sini.
8. Pelopor Siswi Berjilbab
Selain pelopor seragam putih abu-abu, kabarnya sekolah ini juga pelopor seragam berjilbab bagi siswa putri. Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini.
Inilah kampus cemara tempatku bernaung, tempatku tumbuh, dan……… :’)
(Source: myheartbeatsforislam)
-: -: -: -: -: -: A Hijabi Muslimah And A Queen :- :- :- :- :- :-
Both Are Dressed Modestly:-
A Queen Dresses Modestly Because It’s Obligation For Her To Do So.
A Hijabi Muslimah Dresses Modestly Because She Is Obeying Her Lord.
Both Have High Status :-
A Queen’s Status Is Raised The Moment She Inherits Her Title And Crown.
A Hijabi Muslimah’s Status Is Raised The Moment She Puts Her True Crown (Hijab) To Please Her Lord.
Both Should Not Shake Hands With Everyone :-
There Are Only Certain People Who Can Shake Hands With Queen.
A Hijabi Muslimah Don’t Shake Hands With Strange Men (Non Mahram).
Both Are Respected :-
They Bow Down In The Presence Of A Queen.
True Muslim Men Lower Their Gaze On The Presence Of Muslimah.
Both Are Proud :-
A Queen Is Proud With Her Bloodline.
A Hijabi Is Proud To Be A Muslimah.
Both Are Important :-
A Queen Is Important In Creatures Eyes.
A Hijabi Muslimah, As An Obedient Servant Of ALLAH, Is Important In Her.
SHARE IT ! Surely, الله Will Give The Reward For Spreading Righteousness. ♥
I colori del bosco
Acrylics watercolor on canvas
cm 100 x 100
2012
i love it
Pukul 5 pagi, setelah menjalakan ibadah subuh tisya dan fina berkemas kemas untuk pulang, setelah satu hari menginap di youth center sleman untuk amt dan doa bersama kelas 12. langit gelap dan berkabut , tersoroti oleh lampu motor menimbulkan efek tyndall. Fina yang biasaku panggil fifi, berada didepan dan aku duduk menyamping dibelakang, menumpang seperti ini memberikan ruang untuk lebih menikmati perjalanan karena kita tidak harus fokus mengendarai hanya nebeng. Melihat pepohonan, Merasakan udara dingin yang melewati sela jemari, dan aku baru tersadar buat apa memakai slayer? Udara ini terlalu segar untuk dilewatkan, mungkin karena sudah terbiasa berkendara dengan memakai slayer untuk menghindari polusi ditengah kota. “fi, ngapain makai slayer kan masih pagi banget g ada polusi” sembari menurunkan slayer yang sudah terlanjur terpasang. “iya ya, tapi dingin sya” ikut menurunkan slayer. Perjalanan terus berlanjut dan pemandanganpun mulai berganti dari sawah menjadi rumah-rumah, dari pepohonan menjadi tiang lampu, tak terasa sudah memasuki kota dan mendekati sma 1 yogya tepatnya jalan wirobrajan. Semua pemandangan tadi kini sudah berganti, dan ada sebuah pemandangan yang membuatku spontan memanggil fina. “fiii, mbah nya jualan koran!” .
Fina “knapa sya? Mau beli? Apa belok aja? ”
Tisya “g usah fii, nanti aja”
Sampai depan kos nya fina , aku membuka dompet dan ternyata uangku lima puluh ribuan.
Tisya “fi, ada tuker g? aku mau beli koran ,kembaliannya susah”
Fina ” ini aja mb nur, ambil 2rb”
Tisya “lho g tuker?, bsuk tak ganti”
Fina “g usah, anggep aja sari roti dari kamu tadi yang aku makan aku beli, 2.500 kan?”
Tisya ”he he, liat harganya to?”
Fina “tambah 500”
Tisya ” 500nya g usah, makasih fi”
Muter balik motor
Fina “tisya mau bli koran apa mau baca korang hari ini? Atau karena kasian ma mbahnya”
Tisya ” hehe .. Mau ngalirisi fi”
Kembali ke jalan raya, dimana aku melihat orang tua, tepatnya mbah putri, rambutnya yg putih dan berbaju merah , berdiri dipinggir jalan dengan memegang koran tribun, entah dari jam berapa mbah itu berdiri, beliau berdiri diposisi nya dan tidak bergerak atau berjalan jalan layaknya penjual koran. Beliau juga tidak mengenakan jaket, sudah terbiasakah dengan dinginnya pagi yg sudah menjadi rutinitasnya ini.
Tisya ”pinten mbah koranipun?”
Mbah ” setunggal ewu” dengan senyum.
Tisya ”kula tumbas satunggal”
Mbah “inggih, niki” memberikan korannya dan menerima uangnya “maturnuwun, mbenjang tumbas malih nggih” sambil membuka simpanan kembalian
Tisya ”nggih, mboten sah susuk mbah”
Mbah “oh nggih , matur nuwun” senyum.
Tisya ”monggo mbah” senyum juga,nanti aku bawa pecahan yg lebih mbah, kata dalam hati.
Mbah “monggo”
Kembali meneruskan perjalanan pulang, namun kali ini dengan beberapa bertanyaan dibenakku. Tidak bisa untuk tidak berpikir, pertanyaan dan hikmah mengalir bersamaan. Kenapa mbahnya sampai jualan koran? Memenuhi kebutuhan hidup jawab pikiran yang lain, lha kemana anak anaknya? Entah pergi, atau mungkin sama atau mungkin tidak punya. Sebenarnya saat aku berada dilingkungan kos fina juga melihat kakek kakek bersepeda mengantarkan koran dari rumah ke rumah. Ingin sekali aku menanyakan pertanyaan ini langsung kepada mereka. Namun yang terpenting adalah pelajaran yang dapat diambil, tak perlu memuaskan keingintahuan yang penting adalah perbuatan.
Begitu pentingnya arti sebuah kata pagi bagi mereka. Begitu berharganya setiap detik disetiap pagi sampai mereka rela berdiri menahan pegal dan dingin. Untuk diketahui saja terkadang harga koran di siang hari lebih murah. Dengan rutinitas seperti itu mbah tersebut masih memberikan senyuman tulusnya dan bisa saja entah pekerjaan apa lagi yang menunggu mereka di sore hari. Bukankah uang 1000 per koran itu begitu kecil? , ya sangat kecil apalagi kalau korannya tidak laris, namun yang 1000 itulah sangat berharga bagi mereka. Disebuah kehidupan yang lain, masih ada yang melepas berharganya waktu pagi dengan tidur nyaman. Atau waktu kehilangan waktu sorenya karena tidur. Kalau memang tidak ada pekerjaan lain di waktu itu sehingga memilih tidur, kenapa tidak memilih membantu mereka saja? Membantu orang yang membutuhkan, bahkan ketika kita sudah tidak mampu memberikan sesuatu, senyum saja sudah dapat membantu mereka, menguatkan dalam menjalani kehidupan.
Berbagi itu terasa nikmat dan indah :)
